Oleh: Armahedi Mahzar, M.Sc

Artikel yang Anda baca ini ditulis dengan menggunakan sebuah desktop komputer. Alat yang kini lebih dikenal sebagai komputer pribadi itu, baru muncul pada awal tahun 80-an abad lalu. Oleh sebagian orang ia dianggap sebagai pemicu revolusi teknologi informasi, yang membuat abad ke-21 ini menjadi abad pos-industri, dengan budaya pos-modern yang serba amburadul dan politik internasional militeristik yang serba tak adil.

Akan tetapi bagi sebagian yang lain, teknologi abad ke-21 dirasa memberikan kemudahan, kecepatan dan kenyamanan yang tiada taranya dalam sejarah peradaban manusia. Dari sebagian besar penikmat teknologi pos-industri ini, mungkin tidak banyak yang tahu bahwa kunci keberadaan komputer pribadi terletak dalam pemikiran dua orang perintis fisika modern. Orang pertama adalah Einstein, yang dikenal dunia lewat teori relativitasnya. Salah satu bagian teori relativitas berbicara mengenai efek foto-listrik. Pemahaman atas efek inilah yang memungkinkan diciptakannya monitor komputer sebagai wahana komunikasi manusia-mesin. Orang kedua adalah Werner Heisenberg yang merumuskan teori kuantum. Tanpa teori ini, mikroprosesor yang merupakan jantung si mesin informasi tak akan mungkin diciptakan.

Kedua teori itulah yang mengubah ilmu fisika. Dari yang klasik berwawasan terbatas menjadi yang modern berwawasan global, meliputi benda-benda berkecepatan sangat tinggi dan berukuran super-kecil. Fisika modern itulah mata air bagi keajaiban teknologi pos-industrial di awal milenium ketiga ini.

Walaupun begitu, barangkali, orang juga tak boleh lupa bahwa kedua fisikawan besar itu jugalah yang bertanggung jawab pada ketegangan perang dingin di paruh akhir abad yang lalu. Bom nuklir tidak mungkin dikembangkan tanpa teori-teori yang mereka ciptakan. Bahkan bukan hanya sampai di situ. Nyatanya Heisenberg adalah seorang pendukung Nazi, yang menganjurkan Hitler untuk melakukan riset pembuatan bom nuklir. Begitu pula Einstein, yang menulis serangkaian surat kepada presiden Amerika di masa Perang Dunia II, untuk meyakinkan pemerintah Amerika agar membuat bom nuklir mendahului Jerman. Lahirlah The Manhattan Project yang terkenal. Akhirnya Amerika Serikat yang menang dalam perlombaan senjata itu. Bom nuklir pun dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, merenggut nyawa jutaan rakyat sipil dan menyisakan penderitaan puluhan tahun bagi yang terkena radiasinya.

Perang Dunia II memang berakhir oleh sebab ledakan itu. Jepang menyerah dan Jerman jatuh oleh jepitan penyerbuan Sekutu dari barat dan Sovyet Rusia dari timur. Akan tetapi, berakhirnya Perang Dunia yang panas itu ternyata dilanjutkan oleh puluhan tahun Perang Dingin, yang ditandai perlombaan pembuatan hulu-ledak nuklir beserta pangkalan-pangkalan peluru kendali antar-benua di berbagai penjuru dunia. Kali ini perlombaan senjata berlangsung antara dua blok pemenang Perang Dunia II: Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan Blok Timur yang dipimpin oleh Uni Sovyet.

Benar bahwa ketegangan ini akhirnya reda. Amerika Serikat kemudian kalah di Vietnam pada tahun 70-an, dan Uni Sovyet kalah di Afghanistan pada tahun 80-an. Tembok Berlin runtuh dan Jerman kembali bersatu. Blok Timur terpecah belah diikuti disintegrasi Uni Sovyet. Namun tak dapat dipungkiri, kemajuan teknologi yang mengikuti perkembangan sains modern yang begitu pesat, ternyata membawa dampak-dampak ikutan yang menyengsarakan manusia.

Satu hal yang tak dapat dihindari adalah ketimpangan ekonomi antara Dunia Utara dan Dunia Selatan. Ketimpangan ini kemudian memicu negara-negara Selatan untuk melakukan percepatan industrialisasi demi mengejar ketertinggalannya. Percepatan itu harus berjalan dengan dana pinjaman dari negara-negara Utara bekas penjajah mereka, yang digunakan untuk mengeksploitasi sumber daya mereka tanpa memperhatikan dampaknya yang merusak kualitas lingkungan biologis. Pengerukan pulau dan gunung demi barang tambangnya, dan penggundulan hutan demi kayu sebagai bahan baku industri, kemudian memicu banjir bandang bahkan banjir lumpur yang menghajar pemukiman penduduk. Semua itu adalah contoh dampak industrialisasi tanpa kendali.

Industrialisasi itu kemudian juga melahirkan urbanisasi, dimana tenaga kerja pedesaan disedot ke kota-kota besar, dikumpulkan di daerah-daerah kumuh yang bagaikan pulau-pulau di tengah lautan gedung-gedung beton bertingkat, bagaikan pulau di antara lautan perumahan mewah dan “sungai-sungai” jalan tol bebas hambatan. Urbanisasi ini menyebabkan terfragmentasinya kehidupan sosial sehingga budaya gotong-royong masyarakat pedesaan digantikan oleh budaya kompetisi antar tetangga. Orang-orang berkompetisi untuk mendapatkan produk-produk konsumsi keluaran industri mutakhir, dari sekadar ponsel hingga mobil mewah.

Untuk dapat bertahan di tengah kompetisi itu, mereka pun harus bekerja hingga larut malam sehingga jarang bertemu dengan anak-anak mereka. Anak-anak yang jarang bertemu dengan orangtuanya ini, pada gilirannya diasuh oleh “layar kaca”. Layar kaca pun mengajarkan budaya kompetisi yang konsumtif, sehingga anak-anak ini tumbuh seperti orangtuanya: berlomba-lomba mengejar gaya hidup konsumtif. Tidaklah mengherankan jika manusia kota terasing satu sama lain dan mudah dirangsang untuk menjadi penjarah ketika kerusuhan meletus, saat kompetisi berubah menjadi konflik horisontal.

Kompetisi konsumtivisme ini di lain pihak melahirkan robot-robot manusia yang mati perasaannya—kecuali jika dirangsang oleh adegan-adegan syur di layar kaca, ataupun oleh obat-obatan. Perasaan kedamaian, yang merupakan kenikmatan sehari-hari pasca kerja di masyarakat pertanian, kini telah hilang di kalangan manusia kota. Maka untuk memperolehnya, merekapun mengkonsumsi obat-obatan terlarang yang mahal—yang untuk bisa membelinya, mereka tak segan-segan menjual diri, melanggar norma terdasar dalam semua agama. Mereka menjual diri demi kenikmatan-kenikmatan spiritual semu kimiawi.

Sementara itu sebagian dari mereka juga menjual integritas untuk memperlancar roda gigi mesin besar ekonomi, melalui penerimaan uang-uang pelicin demi memenuhi kebutuhan akan produk-produk konsumtif. Bahkan mereka menggunakan hukum-hukum negara—yang dipersepsikan sebagai penghambat—untuk membenarkan penerimaan uang pelancar. Dan semua itu dilakukan secara berjamaah: jamaah menuju neraka, demi gemerlap kehidupan dunia yang tumbuh seiring kemajuan sains. [bersambung…]