Oleh: Armahedi Mahzar, M.Sc

Tidaklah mengherankan jika banyak orang mengganggap peningkatan bencana alam yang dialami negeri kita akhir-akhir ini sebagai hukuman Tuhan yang setimpal atas kerusakan moral spiritual bangsa kita. Namun berapa orangkah yang mau mencari sumber terdalam kemerosotan moral spiritual ini? Yang saya yakini, sumber terdalam kemerosotan spiritual ini adalah dianutnya materialisme ekonomi. Materialisme ekonomi ini tanpa disadari berasal dari materialisme ilmiah, sebagai bagian filsafat dasar tersembunyi sains modern, yang oleh para filsuf ilmu pengetahuan diberi nama paradigma.

Berapa orangkah di antara para ilmuwan yang sadar bahwa kompetisi ekonomis antar individu, keluarga, golongan dan negara pada dasarnya bersumber pada penerimaan membabi-membuta akan pandangan kompetisi biologis, yang diajarkan oleh paradigma materialistik Darwinian yang meletakkan kooperasi sebagai sekedar alat bagi kompetisi? Berapa orangkah di antara mereka yang menyadari individualisme pasar liberal itu bermodel pada pandangan atomisme sebagai ajaran terdasar fisika? Berapa orang pula yang menyadari bahwa mekanisme pasar yang mereka sebut sebagai “tangan gaib” adalah bayang-bayang dari pandangan mekanistik tentang alam yang menganggap alam hanya sebagai sebuah mesin raksasa? Tampaknya tak banyak.

Kita patut bersyukur karena ketidak-tahuan atau kejahiliahan seperti itu tidaklah menyusup ke alam bawah sadar semua ilmuwan. Hingga saat ini banyak bermunculan kritik-kritik ideologis dari berbagai kelompok. Kelompok ekologis misalnya, melihat kemajuan teknologi hanya mementingkan kepentingan manusia dan melupakan nasib makhluk-makhluk hidup lain, suatu pandangan yang berujung pada pengurangan keanekaragaman hayati melalui pemusnahan spesies demi spesies.

Kelompok ekonom neo-marxis membukakan rahasia bagaimana perkembangan sains itu sebenarnya bukanlah pendorong teknologi, tetapi justru ditarik oleh perkembangan teknologi yang pada gilirannya ditarik oleh hasrat manusia, kelompok dan negara untuk kemajuan ekonomi dalam kompetisi pasar bebas global. Di lain pihak kelompok feminis melihat kepentingan ekonomi itu sebenarnya sangat berorientasi patriarkis sehingga mengimbas pada pandangan sains sebagai bagian dari proses penaklukan alam oleh manusia. Akhirnya kelompok etnis religius pun menganggap bahwa sains modern dibentuk hanya untuk kepentingan orang Eropa atau dalam istilah populernya: orang Barat.

Kritik-kritik ideologis terhadap sains seperti ini, tampaknya memberikan kesan yang cukup mendalam pada pemikir dan ilmuwan Islam di tahun 70-an. Maka timbullah gagasan untuk melakukan desekularisasi sains seperti yang dianjurkan oleh Naquib Alattas, yang diikuti oleh anjuran islamisasi pengetahuan seperti dari Ismail al-Faruqi. Sementara itu Ziauddin Sardar justru ingin merombak struktur sains Barat dan menjadikannya sebagai sains islami, dengan membongkar batas-batas antar disiplin yang berorientasi obyek ilmu dan mengintegrasikannya kembali dalam berbagai disiplin baru yang berorientasi pemecahan masalah. Bahkan Seyyed Hosein Nasr menganggap sains tradisional Islam sebagai sains islami yang lebih unggul daripada sains modern Barat. Akhirnya, Abu Waqr Husaini menganjurkan untuk mengembalikan sains pada fundamental Islam: Al-Qur’an dan Sunnah.

Ditarik ke ekstremitas seperti ini, tumbuhlah berbagai respons dari kalangan ilmuwan Islam. Satu respons di antaranya menyatakan bahwa yang tepat adalah “islamisasi ilmuwan, bukan islamisasi sains yang sebenarnya sudah universal dan obyektif” dari pemenang hadiah nobel fisika Abdussalam. Dalam hal ini sains dilepaskan dari agama, seperti yang dilakukan oleh para ilmuwan Barat. Pandangan seperti ini tampaknya juga dipegang oleh para pejuang harakah Islamiyah muda yang—walaupun tak mau memisahkan politik dan ekonomi dari syari’ah Islam—tak menganggap ada pertentangan antara sains modern dan aqidah Islamiyah. Bahkan dalam bentuk lain, banyak yang mendukung sains Barat modern dengan cara menunjukkan banyaknya penemuan-penemuan mutakhir yang ternyata telah termaktub dalam Al-Quran Al-Karim. Contohnya adalah Maurice Buccaille di tahun 70-an, dan juga oleh kelompok Harun Yahya di awal abad ini, meskipun yang belakangan disebut ini menolak Darwinisme dalam biologi.

Tampaknya, keanekaragaman reaksi cendekiawan dan ilmuwan Islam terhadap karakteristik sains modern ini, menuntut kita untuk menilik sains secara lebih mendalam dari luar sains sendiri. Para ilmuwan kini tampaknya harus mau menyertai kaum budayawan yang menganggap sains sebagai sesuatu yang intersubyektif, bukannya sesuatu yang obyektif. Bagi umat Islam tentu saja hal ini tidaklah sulit, karena satu-satunya yang obyektif hanyalah ilmu Allah yang mutlak. Ilmu manusia termasuk sains adalah sesuatu yang bersifat relatif, meski kemudian berkembang secara perlahan menuju yang mutlak obyektif. Sains adalah salah satu cabang pengetahuan bersama manusia, seperti cerita pusaka alias mitos, teologi, filsafat, ideologi dan lain-lainnya, yang menghubungkan kesadaran manusia sebagai subyek dan realitas seutuhnya sebagai obyek.

Obyek sains dalam Al-Quran Al-Karim diistilahkan sebagai “ayat-ayat” yang ada pada ’afaq (cakrawala di luar diri manusia) berupa alam semesta, dan yang ada di dalam anfus (diri manusia) berupa bahasa, matematika dan logika. Ayat-ayat alias tanda-tanda adalah tabayun atau penjelas bagi al-Haqq: Kebenaran Mutlak.

Al-Qur’an tidak hanya memberi deskripsi tentang obyek ilmu, tetapi juga mengenai organ pengetahuan manusia yang disimbolkan sebagai bashar (penglihatan) alias sarana empiris, sama’ (pendengaran) sebagai sarana linguistik, dan lubb (hati terdalam) yang merujuk pada rasionalitas dan intuisi manusia. Tujuan ilmu itu sendiri tak lain agar manusia bertakwa kepada Allah SWT, melalui Tauhid yang menjadi landasan pengembangan ilmu dan Tasykir sebagai landasan pengamalan ilmu dalam bentuk teknologi.

Sebagai kesimpulan dapatlah dinyatakan bahwa solusi jangka panjang dari krisis bangsa ini secara lokal, dan krisis peradaban manusia secara global adalah meletakkan kembali sains di atas sebuah landasan falsafah, yang berdiri teguh di atas dasar keberagamaan yang kaffah, menyeluruh demi ridha-Nya di dunia dan akhirat. Hanya dengan persepsi demikianlah, manusia dapat mengendalikan pengembangan sains serta pemanfaatan teknologi agar sesuai dengan kebutuhan hakiki manusia yang bersifat menyeluruh: lahir dan batin.

Untuk itu, kita semua—terutama para ilmuwan muslim—perlu melongok sains dari luar dan memeriksanya secara falsafati. Filsafat diperlukan untuk ”merujukkan” agama dan sains yang telah bercerai semenjak Renaissance Abad XV dan zaman Aufklarung di Abad VIII. Dan meski pendidikan umum kita mewarisi kesalahan paradigma itu dari pemerintah kolonial Belanda, kita berpeluang untuk memperbaikinya. Insya Allah.

Amin Ya Rabbal Alamin.