Oleh: Dr. Rosihon Anwar & Fadhullah Muh. Said, S.Ag

\

Jika ditinjau secara ilmiah, fungsi gunung sangat banyak. Namun, artikel ini akan berfokus pada fungsi gunung sebagai ”pasak” Bumi, sebagaimana yang tercantum dalam Q.S. An-Nahl ayat 15: ”Dan Dia menancapkan gunung-gunung di Bumi supaya Bumi itu tidak berguncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.”

Dalam ilmu tafsir, salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memahami makna ayat tersebut adalah pendekatan kebahasaan. Pendekatan saintifik untuk memahami makna sebuah kata dalam Al-Qur’an tidak bisa dipisahkan dari pendekatan kebahasaan. Tafsir saintifik yang berkembang di suatu masa, harus terus dicocokkan dengan makna asal kata yang ditafsirkan: makna kata tersebut dalam masyarakat Arab pra Islam.

Dalam Al Qur’an sendiri, kata ”gunung” disebutkan dalam dua bentuk yaitu jabaal atau jamaknya jibaal, dan rowaasiy. Kata jabaal disebutkan sebanyak 39 kali, sedangkan rowaasiy disebutkan sebanyak 10 kali, jadi jumlahnya sebanyak 49 kali. Di antara 49 tempat penyebutan gunung itu, terdapat 22 tempat yang menunjukkan fungsi gunung sebagai ”pasak”.

Dalam Al Qur’an kata ”gunung” (baik jabaal maupun rowaasiy) dapat mengacu pada:

· gunung yang sesungguhnya (Q.S. [2]:160, [11]:43);

· metafora atau pengkiasan (Q.S. [14]:46, [17]:37, [19]:90, [33]:72, [24]:43);

· arti penting dalam sejarah manusia seperti tempat tinggal Kaum Tsamud (Q.S. [7]:74, [15]:82, [26]:149);

· tempat terjadinya mukjizat seperti Nabi Musa a.s., Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Muhammad saw (Q.S. [2]:260, [7]:143 & 171);

· tempat berlindungnya manusia dan hewan atau tempat mempertahankan diri (Q.S. [16]:81, [13]:3, [16]:15, [27]:61, [77]:27).

· stabilisator kulit Bumi (Q.S. [13]:3, [15]:19, [16]:15, [21]:31, [27]:61, [31]:10, [50]:7, [77]:27, dan [79]:32);

· keagungan penciptaan gunung (Q.S. [88]:19);

· penggambaran komposisi bebatuan gunung (Q.S. [35]:27);

· fakta bahwa biarpun bermassa besar, tapi gunung dapat bergerak (Q.S. [27]:88)

· spiritualistik/supranatural (Q.S. [21]:79, [22]:18, [34]:10, [38]:18);

· nasib gunung di hari kiamat (Q.S. [18]:47, [20]:105, [52]:10, [46]:5, [69]:14, [77]:10, [78]:20, [81]:3, [101]:5).

Istilah jabaal lebih bersifat umum, sedangkan rowaasiy kemungkinan dimaksudkan khusus untuk menyebutkan gunung yang berfungsi sebagai pasak Bumi. Hal ini dikuatkan pula oleh makna dasar dari kata tersebut. Kata rowaasiy bermakna sesuatu yang dapat membuat benda yang berguncang menjadi diam, dalam hal ini benda yang berguncang adalah Bumi.

Penyebutan istilah rowaasiy juga selalu didahului dengan kata alqa yang berarti ”mencampakkan”, atau ”meletakkan sesuatu yang belum ada sebelumnya di tempat itu”. Makna ini bersesuaian dengan uraian ilmiah mengenai gunung. Gunung-gunung yang berada di batas lempeng (divergen maupun konvergen) memang tidak muncul bersamaan dengan pembentukan daratan, melainkan harus melalui proses tektonik terlebih dahulu.

Hal lain yang menarik ditinjau adalah penggunaan isim makrifat (al) yang mendahului kata ardh dalam Surat An-Nahl ayat 15. Isim (kata benda) ini menunjukkan pengkhususan, dalam hal ini pengkhususan bagian tertentu dari Bumi. Hal ini berarti ”gunung” yang dimaksudkan dalam ayat tersebut tidak terdapat di seluruh permukaan Bumi, akan tetapi hanya pada wilayah-wilayah tertentu. Wilayah-wilayah tersebut kemungkinan adalah batas-batas lempeng yang telah diuraikan di atas.

Bagian lain yang menarik diamati setelah kata rowaasiy dalam Q.S. An-Nahl ayat 15, adalah an tamiida bikum (terjemahannya: tidak guncang bersama kamu). Kata ”bersama kamu” mungkin menunjukkan bahwa ”gunung” yang dibicarakan dalam ayat tersebut adalah gunung yang berada dekat dengan permukiman manusia, yakni gunung-gunung di batas lempeng konvergen. Gunung-gunung di bawah laut (batas lempeng divergen) mungkin tidaklah termasuk dalam ”gunung” yang dibicarakan ayat ini.

Kalimat an tamiida bikum juga menarik, sebab menggunakan fi’il mudlori. Berdasarkan ilmu tafsir, fi’il (kata kerja) jenis ini digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang selalu berada dalam proses (belum selesai), mirip dengan continuous tense dalam bahasa Inggris. Hal ini bersesuaian dengan proses kejadian gunung di batas lempeng, yang memang belum selesai dan mungkin tidak akan pernah selesai. Selama dinamika lempeng tektonik masih terjadi, selama itu pula dinamika gunung akan terus berlangsung. Wallahu A’lam.