Oleh: Dr. T. Djamaluddin
\"Tujuh Langit\"

Sejarah Tujuh Langit

Banyak orang di masa lalu—jauh sebelum Al-Qur’an diturunkan—percaya bahwa langit berlapis tujuh. Ini berkaitan dengan pengetahuan mereka tentang adanya tujuh benda langit utama dengan jarak yang berbeda-beda. Kesimpulan ini lahir dari pengamatan mereka atas gerakan benda-benda tersebut. Benda langit yang lebih cepat geraknya di langit dianggap lebih dekat jaraknya. Lalu mereka menggambarkan seolah-olah benda-benda tersebut berada pada lapisan langit yang berbeda-beda, mengelilingi Bumi yang berada di tengah-tengah.

Di langit pertama ada Bulan, benda langit yang bergerak tercepat sehingga disimpulkan sebagai yang paling dekat. Langit ke dua ditempati Merkurius (Bintang Utarid). Venus (Bintang kejora) berada di langit ke tiga. Sedangkan matahari ada di langit ke empat. Di langit ke lima ada Mars (Bintang Marikh). Di langit ke enam ada Jupiter (Bintang Musytari). Langit ke tujuh ditempati Saturnus (Bintang Siarah/Zuhal). Inilah keyakinan lama yang menganggap Bumi sebagai pusat alam semesta.

Orang-orang dahulu (khususnya Romawi dan Yunani) juga percaya bahwa ketujuh benda langit itu adalah dewa-dewa yang mempengaruhi kehidupan di Bumi. Pengaruhnya bergantian dari jam ke jam dengan urutan mulai dari yang terjauh (menurut pengetahuan mereka) yaitu Saturnus, sampai yang terdekat yakni Bulan. Pada jam 00.00, Saturnuslah yang dianggap berpengaruh pada kehidupan manusia. Karena itu, hari pertama disebut Saturday (hari Saturnus) dalam bahasa Inggris, atau Sabtu dalam bahasa Indonesia. Ternyata, jika kita menghitung mundur hari sampai tahun 1 Masehi, tanggal 1 Januari tahun 1 memang jatuh pada hari Sabtu.

Bila diurut selama 24 jam, jam 00.00 berikutnya jatuh pada Matahari. Jadilah hari itu sebagai hari Matahari (Sunday). Setelah Sun’s day adalah Moon’s day (Monday). Hari berikutnya adalah Tiw’s day (Tuesday). Tiw adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewa Mars (dewa perang Romawi kuno). Berikutnya adalah Woden’s day (Wednesday). Woden adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewa Merkurius (dewa perdagangan Romawi kuno). Berikutnya lagi Thor’s day (Thursday). Thor adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewa Jupiter (dewa petir, raja para dewa Romawi). Terakhir adalah Freyja’s day (Friday). Freyja adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewi Venus (dewi kecantikan Romawi kuno).

Jumlah hari yang ada tujuh itu dipakai juga oleh orang-orang Arab. Dalam bahasa Arab nama-nama hari disebut berdasarkan urutan: satu, dua, tiga, …, sampai tujuh, yakni ahad, itsnain, tsalatsah, arba’ah, khamsah, sittah, dan sab’ah. Bahasa Indonesia mengikuti penamaan Arab ini sehingga menjadi Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, dan Sabtu. Hari ke enam disebut secara khusus: Jum’at, sebab itulah penamaan yang diberikan Allah di dalam Al-Qur’an, yang menunjukkan adanya kewajiban shalat Jum’at berjamaah.

Penamaan Minggu berasal dari bahasa Portugis, Dominggo yang berarti hari Tuhan. Ini berdasarkan kepercayaan Kristen bahwa pada hari itu Yesus bangkit. Tetapi orang Islam tidak mempercayai hal itu, sehingga lebih menyukai pemakaian “Ahad” daripada “Minggu”.

 

Tujuh langit dalam Isra’ & Mi’raj

Pemahaman tentang istilah ”tujuh langit” sebagai tujuh lapis langit dalam Islam, mungkin bukan sekadar pengaruh konsep geosentris lama, tetapi juga diambil dari kisah mi’raj Rasulullah SAW. Mi’raj adalah perjalanan dari Masjid Aqsha ke sidratul muntaha yang secara harfiah berarti ‘tumbuhan sidrah yang tak terlampaui’, suatu perlambang batas yang tak ada manusia atau makhluk lain yang bisa memahaminya lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur’an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan seperti sidratul muntaha itu.

Secara sekilas kisah mi’raj di dalam hadits shahih sebagai berikut. Mula-mula Rasulullah SAW memasuki langit dunia. Di sana Beliau menjumpai Nabi Adam yang dikanannya berjejer ruh para ahli surga dan di kirinya ruh para ahli neraka. Perjalanan kemudian Beliau teruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya.

Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya Baitul Ma’mur, tempat 70.000 malaikat shalat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.

Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam (‘pena’). Dari sana dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (batin) di surga, dan dua sungai fisik (dhahir) di dunia: Sungai Eufrat di Irak dan Sungai Nil di Mesir.

Jibril juga mengajak Rasulullah SAW melihat surga yang indah. Hal ini dijelaskan pula dalam Al-Qur’an Surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya. Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah shalat wajib.

 

Lapisan Langit: Dhahir atau Bathin?

Langit (samaa’ atau samawat di dalam Al-Qur’an) secara astronomis berarti segala sesuatu yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu, dan gas yang bertebaran. Lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit, sama sekali tidak dikenal dalam astronomi.

Ada yang berpendapat bahwa langit itu memang berlapis-lapis dengan berdalil pada QS Al-Mulk:3 dan Nuh:15 yang menyebutkan sab’a samaawaatin thibaqaa. Tafsir Depag mengartikan kalimat itu sebagai “tujuh langit berlapis-lapis” atau “tujuh langit bertingkat-tingkat”. Walaupun demikian, ini tidak berarti langit memang berlapis tujuh. Makna thibaqaa, bukan berarti berlapis-lapis seperti kulit bawang, tetapi dapat bermakna ”bertingkat-tingkat, bertumpuk, satu di atas yang lain.” Pengertian ini berdasarkan tafsir/terjemah Yusuf Ali, A. Hassan, Hasbi Ash-Shidiq, dll.

“Bertingkat-tingkat” berarti jaraknya berbeda-beda. Walaupun kita melihat benda-benda langit seperti menempel pada bola langit, sesungguhnya jaraknya tidak sama. Rasi-rasi bintang yang dilukiskan mirip kalajengking, mirip layang-layang, dan sebagainya sebenarnya jaraknya berjauhan, tidak sebidang seperti titik-titik pada gambar di kertas.

Lalu apa makna ”tujuh langit” bila bukan berarti tujuh lapis langit? Di dalam Al-Qur’an ungkapan ”tujuh” atau ”tujuh puluh” sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung banyaknya. Dalam matematika kita mengenal istilah “tak berhingga” yang berarti bilangan yang sedemikian besarnya, yang jauh lebih besar dari yang kita bayangkan. Kira-kira seperti itu pula makna ungkapan “tujuh” dalam beberapa ayat Al-Qur’an.

Misalnya, di dalam Q.S. Luqman:27 diungkapkan, ”Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai pena dan lautan menjadi tintanya dan ditambahkan tujuh lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah.” Istilah ”tujuh lautan” bukanlah menunjukkan jumlah eksak, sebab dengan delapan lautan lagi atau lebih kalimat Allah tak akan ada habisnya.

Sama halnya dalam Q.S. At-Taubah:80: “…Walaupun kamu mohonkan ampun bagi mereka (kaum munafik) tujuh puluh kali, Allah tidak akan memberi ampun….” Jelas, ungkapan “tujuh puluh” bukan berarti bilangan eksak. Allah tidak mungkin mengampuni mereka meski kita mohonkan ampunan lebih dari tujuh puluh kali.

Jadi, ”tujuh langit” semestinya dipahami pula sebagai benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit.

Bagaimana dengan makna langit pertama, ke dua, sampai ke tujuh dalam kisah mi’raj Rasulullah SAW? Muhammad Al-Banna dari Mesir menyatakan bahwa beberapa ahli tafsir berpendapat Sidratul Muntaha itu adalah Bintang Syi’ra, yang berarti menafsirkan tujuh langit dalam makna fisik. Tetapi sebagian lainnya, seperti Muhammad Rasyid Ridha (juga dari Mesir), berpendapat bahwa tujuh langit dalam kisah Isra’ & Mi’raj adalah langit gaib.

Dalam kisah mi’raj, peristiwa fisik bercampur dengan peristiwa gaib. Misalnya pertemuan dengan ruh para Nabi, melihat dua sungai di surga dan dua sungai di bumi, serta melihat Baitul Ma’mur, tempat ibadah para malaikat. Jadi, saya sependapat dengan Muhammad Rasyid Ridha bahwa pengertian langit dalam kisah mi’raj itu memang bukan langit fisik yang berisi bintang- bintang, tetapi langit gaib. Wallahu A’lam.