Oleh: Dr.Eng. Teuku Abdullah Sanny

Berdasarkan ilmu kebumian, seluruh wilayah Indonesia memiliki potensi gempa kecuali Kalimantan, yang merupakan satu-satunya daerah bebas gempa dangkal. Salah satu dari gempa bumi tersebut disertai tsunami raksasa, yang terjadi di Aceh pada tahun 2004. Tsunami yang melanda tidak kurang dari 11 negara itu, menewaskan seperempat juta manusia seketika.

Setelah tsunami raksasa tersebut, timbullah beberapa pertanyaan. Ada apa dengan bumi kita? Apakah Tuhan sedang marah karena dosa yang telah kita perbuat? Beberapa orang luar Aceh melemparkan jawaban setengah bergurau, bahwa peristiwa tersebut adalah akibat dosa besar penduduk Aceh yang ingin keluar dari NKRI. Ironisnya, gempa dan tsunami kemudian juga menimpa daerah mereka.

Setelah peristiwa gempa bumi dan tsunami secara beruntun selama tahun 2004-2007 di daerah Pangandaran, Yogyakarta, Indramayu, Bengkulu, Mentawai dan yang terbaru di Sumatra Barat, barulah masyarakat dan tokoh agama berusaha menyikapi fenomena tersebut dengan lebih bijak.

*******

Para ahli kebumian telah mengetahui bahwa bumi ini terbagi menjadi lempeng-lempeng (plate) tektonik, yang saling bergerak dengan kecepatan 5-10 cm/tahun. Di Indonesia terdapat 3 lempeng besar yang saling berinteraksi, yaitu lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Interaksi ini menghasilkan serangkaian gunungapi aktif yang dikenal dengan “Ring of Fire” (cincin api).

Pergesekan/tubrukan antar lempeng tersebutlah yang menghasilkan gempa. Jalur gempa bumi di Indonesia pun selaras dengan cincin api ini. Jalur gempa melingkari sebelah selatan Indonesia sejajar dengan Kepulauan Mentawai dan Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, kemudian berbelok di Laut Banda hingga Halmahera.

Kondisi tektonik Indonesia tersebut, terbentuk melalui proses evolusi panjang sejak 150 juta tahun yang lalu. Cincin api itu terbentuk jauh sebelum manusia ada. Bahkan mungkin jauh sebelum perdebatan antara Allah SWT dengan para malaikat, tentang perlu tidaknya keberadaan manusia sebagai khalifah di Bumi.

Gempa merupakan salah satu pesan Allah SWT bagi umat manusia, bahwa tak ada makhluk yang dapat mencegah kehendak-Nya. Konsekuensi gempa tersebut dapat berupa bencana atau rahmat, tergantung sejauh mana manusia mempersiapkan dirinya. Apabila sinyal Allah SWT ini disambut dengan matang, Insya Allah akan mendatangkan rahmat. Contohnya adalah penduduk Aceh, yang memperoleh perdamaian dan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa setelah tsunami Desember 2004.

Kalaupun gagal, mereka yang tewas akibat gempa dan tsunami insya Allah tetap mendapat predikat syahid. Sesungguhnya Allah sangat menghargai apapun usaha kita. Yang celaka ialah mereka yang tidak siap lahir maupun batin.

Menghindari malapetaka menurut Islam wajib hukumnya. Seperti yang dicontohkan dalam kisah Umar r.a. ketika ia menghindari Kota Amawas karena kota tersebut sedang terjangkit wabah tha’un. Saat ditanya oleh Abu Ubaidah, ”Mengapa engkau lari dari takdir Allah?” Umar r.a. menjawab, ”Aku lari dari takdir Allah, menuju takdir Allah yang lain.”

Dengan demikian, kita harus memadukan pemahaman sains dan Al Qur’an agar menghasilkan takdir terbaik bagi umat Islam Indonesia. Dengan demikian, fenomena cincin api dapat menjadi kesempatan yang besar untuk menggapai surga, tidak lagi menjadi bencana yang merugikan. Caranya, menurut Syeikh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi ialah berdo’a dan perbanyak istighfar sebelum malapetaka tiba. Atau bertawassul dengan cara menyebutkan amal-amal terbaik yang pernah dilakukan selama hidup. Insya Allah, malapetaka dapat dihindari atau kita syahid bersama malapetaka tersebut.

Wallahu’alam bisshawab.[]