Oleh: Dr. Rosihon Anwar

Islam identik dengan konservasi alam. Kata Islam sendiri berasal dari kata aslamu yang berarti selamat dan sejahtera. Nabi Muhammad saw., sejak pertama kali diutus dideklarasikan sebagai rahmatan lil-alamin. Kata rahmatan dapat berarti pencerahan atau penjaga keseimbangan alam. Jelas terlihat bahwa ajaran Islam sangat relevan dengan konservasi alam.

Islam tidak setuju dengan pandangan dikotomis yang memandang alam sebagai bagian yang terpisah dari manusia, serta paham antroposentris yang menganggap manusia sebagai pusat dari sistem alam. Hal tersebut dijelaskan dalam Surat Al-Ankabut ayat 36 berikut:

Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan, saudara mereka Syu’aib, maka ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah, harapkanlah (pahala) hari akhir, dan jangan kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan

(Q.S. Al-Ankabut: 36)

Dalam ayat tersebut, kata yang digunakan untuk menyebutkan kerusakan ialah fasad atau mufsidin untuk menyebut pelakunya. Kata fasad beserta turunannya dalam Al-Qur’an terulang sebanyak 50 kali. Kata ini menunjukkan suatu perilaku manusia yang merusak atau mengganggu sunnatullah seperti keseimbangan alam yang dampaknya global. Namun, jika dampaknya bersifat lokal, digunakan kata asyar atau syarun. Jadi, kata fasad disini dapat dikaitkan dengan pemanasan global yang disebabkan oleh manusia.

Selain surat tersebut, masih banyak lagi surat-surat yang berisi larangan untuk mengeksploitasi alam secara berlebihan, dan sebaliknya anjuran untuk mengkonservasi alam. Salah satunya ialah surat Al-Baqarah ayat 30 yang menceritakan dialog antara Allah swt. dengan para malaikat sebelum menciptakan Nabi Adam as. sebagai khalifah di muka Bumi. Dalam ayat tersebut diceritakan kegundahan para malaikat atas tabiat manusia yang akan cenderung merusak alam.

Khalifah di sini tidak bermakna manusia sebagai penguasa tunggal. Khalifah lebih dekat dengan makna “pemelihara”, atau “pengelola”, atau dalam bahasa saat ini: “manajer”. Sebagai “manajer”, manusia harus mampu  memahami dan menyelaraskan diri dengan alam yang ia kelola. Setiap tindakannya terhadap alam akan dipertanggungjawabkan di hari kiamat kelak, di depan “atasan”nya, Allah swt.

Nabi Muhammad saw. pernah mengajarkan para sahabatnya tentang efisiensi penggunaan air ketika kondisi air justru tidak kritis. Konsep ini dikenal dengan istilah air musta’mal atau daur ulang air limbah untuk digunakan kembali. Jika air sebanyak 1 kulah (sekitar 1 m tingginya dari dasar wadah) terkena najis, maka air tersebut tidak boleh dibuang tetapi boleh digunakan kembali.

Selain itu, Rasulullah saw. juga tidak membolehkan buang air kecil di sebuah lubang, kecuali memang dibuat untuk buang air. Karena di dalam lubang tersebut terdapat hewan-hewan kecil yang menghuninya.

Di dalam Islam sendiri terdapat beberapa istilah yang berkaitan dengan konservasi alam, yaitu:

·      Ihya al-mawat, menghidupkan lahan yang terlantar dengan cara reklamasi atau memfungsikan kawasan tersebut agar menjadi produktif. Hadits tentang ihya al-mawat ini berbunyi:

”Barang siapa yang mengelola lahan tidur (ihya al-mawat), maka tanah tersebut menjadi miliknya.” (HR Ahmad dan Tirmizi).

·      Iqta, lahan yang diijinkan oleh negara untuk kepentingan pertanian sebagai lahan garap untuk pengembang atau investor.

·      Ijarah, sewa tanah untuk pertanian.

·      Harim, kawasan lindung.

·      Hima, kawasan yang dilindungi untuk kemaslahatan umum dan pengawetan habitat alami. Sekitar tahun 624-634 M, Nabi Muhammad saw. juga pernah membuat kawasan hima ini di Madinah. Sebuah hadits menyebutkan bahwa barang siapa menebang pohon yang tengah berbuah, maka hal itu termasuk tindakan kriminal juga, yaitu kriminal terhadap lingkungan.

·      Waqaf, lahan yang dihibahkan untuk kepentingan publik (umat).

Di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa tentang pengelolaan sumber daya alam. Bunyi fatwa tersebut ialah sebagai berikut:

1.      Dalam pandangan Islam, sumber daya alam (SDA) pada hakikatnya milik Allah swt. yang diamanatkan pengelolaan, pemanfaatan dan pelestariannya kepada manusia.

2.      SDA yang termasuk milik umum seperti air, api, padang rumput, hutan dan barang tambang harus dikelola hanya oleh negara, yang hasilnya harus dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk pelayanan pemenuhan kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan fasilitas umum.

3.      Pengelolaan, eksplorasi dan eksploitasi SDA, harus memperhatikan kelestarian alam dan lingkungan serta keberlanjutan pembangunan.

4.      Pengelolaan SDA, baik yang dapat diperbarui maupun yang tidak dapat diperbarui, harus memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup dan sosial budaya masyarakat, untuk mencapai efisiensi secara ekonomis dan ekologis (ekoefisiensi) dengan menerapkan teknologi dan cara yang ramah lingkungan.

5.      Penegakan hukum merupakan suatu keniscayaan dalam pengelolaan SDA untuk menghindari perusakan SDA dan pencemaran lingkungan.

6.      Perlu senantiasa dilakukan rehabilitasi kawasan rusak dan pemeliharaan kawasan konservasi yang sudah ada, penetapan kawasan konservasi baru di wilayah tertentu, serta peningkatan pengamanan terhadap perusakan SDA secara partisipatif melalui kemitraan masyarakat.

Dasar hukum fatwa tersebut ialah Q.S. Lukman:20, Al-Hajj:65, Al-Baqarah:29, dan Thaha:6. Dasar hukum lainnya adalah hadits tentang ihya al-mawat di atas dan hadits lain yang menyebutkan bahwa:  

”Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput gembalaan dan api. Harga (memperjualbelikannya) adalah haram”. (HR. Ibn Majah)

Sekelumit uraian di atas menunjukkan bahwa ajaran Islam sangat terkait dengan konservasi alam. Bahkan, tidak berlebihan kiranya jika disebutkan bahwa konservasi alam adalah bagian integral dari ajaran Islam. Wallahu a’lam bis showab.